• 15

    Sep

    #30HariNonStopNgeblog Membuat Hidupku Berwarna

    Hari ini adalah hari terakhir event #30HariNonStopNgeblog. Syukurlah sampai hari ke 30 ini aku bisa menjalaninya dengan lancar. Rupanya cara yang kupakai (seperti sudah kutulis di postingan: Blogdetik Error Tetap Bisa Posting #30HariNonStopNgeblog ) berguna juga menjaga kekonsistenan menulis, sehingga tidak sampai bolong satupun. Tapi sungguh salut buat deadliner sejati yang baru posting mendekati deadline, pasti tantangannya itu lebih seru terasa ya. Bagiku pribadi membuat postingan setiap hari selama sebulan ini adalah sebuah tantangan pribadi yang cukup sulit juga dilakukan karena postinganku sebulan biasanya bisa dihitung jari. Aku sungguh kagum dengan para blogger yang terbiasa menulis satu hari satu postingan, bahkan mungkin bisa beberapa postingan. Kalau memang sudah terbiasa mela
  • 14

    Sep

    Jangan Takut Berkata Tidak

    Menolak sepertinya adalah hal yang sangat sepele, tetapi pada kenyataannya terkadang sulit untuk dilakukan. Contoh: Saat aku masih duduk di TK dulu, aku sering dimintai uang jajan oleh beberapa temanku. Jika aku tidak mau memberikan uang jajanku itu, mereka tidak mau berteman lagi denganku. Akhirnya karena takut, akupun memberikan uang itu. Saat aku kecil dulu aku termasuk anak yang cengeng, sedikit sedikit nangis, jadi saat aku tidak mempunyai teman aku cuma bisa menangis. Aku terlalu takut untuk berkata “tidak.” Contoh lainnya saja, si A diajak teman-temannya keluar malam mingguan di suatu cafe. Kebetulan teman-temannya suka minum bir. Bisa diduga saat itu teman-temannya membeli beberapa botol bir dan si A dipaksa minum juga. Si A yang memang sering bermasalah dengan pencer
  • 13

    Sep

    Manusia Tak Pernah Merasa Puas

    Manusia adalah makhluk hidup yang paling sempurna karena dikaruniai dengan akal budi yang bisa dipergunakan dalam hidup ini. Akan tetapi berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitarku, bisa diambil suatu perenungan, bahwa manusia itu sebenarnya tidak pernah puas, selalu menuntut ini dan itu. Contoh 1. Saat dulu aku masih kecil, aku ingin cepat besar seperti kakak-kakakku. Ingin cepat kuliah dan cepat bekerja. Tetapi setelah sudah besar, sudah kuliah dan akhirnya berkeluarga, terlintas suatu pikiran, ternyata menjadi anak kecil itu lebih enak ya hidupnya. Pikirannya masih polos, dan waktunya sebagian besar digunakan untuk bermain dan belajar. Tidak perlu pusing memikirkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak perlu mikir, “Besok anak-anak makan apa ya?” Atau 
  • 12

    Sep

    Sebutir Nasi Juga Berharga

    * Sumber Gambar * Sewaktu aku kecil dulu mama sering berkata kepadaku,”Jangan membuang makanan, nanti nasinya nangis lho.” Atau ada yang bilang, “Makannya yang bersih, nanti pacarnya jerawatan lho .” Sebenarnya maksud dari semua perkataan diatas itu adalah : makanan yang kita makan janganlah sampai dibuang-buang dengan percuma, karena sebutir nasi pun itu cukup berharga. Jika memang tidak sanggup memakan dengan porsi yang agak besar, kurangilah porsinya. Jika ternyata kurang kan masih bisa menambah lagi, itu lebih baik daripada mengambil makanan dalam porsi yang besar tapi akhirnya dibuang-buang. Jadi saat aku masih kecil dulu, jika makananku masih ada sisanya maka mama yang kebagian menghabiskan makanannya. Makanya ibu-ibu yang mempunyai anak yang masih kecil c
  • 11

    Sep

    Keajaiban Senyum

    *Sumber Gambar* Senyum, sebuah hal kecil yang membawa pengaruh dan dampak yang begitu besar. Mengawali sebuah hari saat bangun tidur dengan doa, syukur dan sebuah senyuman akan membuat hari yang akan dilalui menjadi bersemangat. Bayangkan saja jika suatu hari kita menjumpai seseorang dengan wajah yang cemberut dan wajah yang tidak mengenakkan, apa yang kita rasakan? Secara tidak langsung perasaan kita menjadi tidak enak juga, semua energy positif yang kita miliki rasanya juga ikut menguap. Tetapi kebalikannya, bagaimana jika saat berjalan kaki misalnya kita menjumpai seseorang yang berwajah ceria dan memberikan sebuah senyum pada kita, apa yang kita rasakan? Secara otomatis kita pasti akan membalas senyum itu, meski kita tidak mengenalnya. Perasaan kita juga akan penuh dengan energi pos
  • 10

    Sep

    Surat Tulis Tangan Sudah Kuno

    Yang namanya surat sekarang ini sudah merupakan barang kuno yang jarang disentuh. Di jaman modern ini surat yang ditulis di kertas surat sudah tergantikan oleh e-mail. Aku jadi teringat jaman aku sekolah dulu, pertama kali surat-suratan saat kelas 4 SD dengan sahabatku yang masih satu sekolah denganku. Aku dan dia, namanya Irene selalu bareng sampai kelas 3 SD karena satu kelas, nah di kelas 4 SD itu kami pisah kelas. Namanya juga masih anak kecil, saat itu kami sama-sama sedih banget padahal sekolah juga masih sama. Akhirnya tiap pulang sekolah, Irene memberiku surat dan aku membalas suratnya. Jadilah, surat-suratan. Isinya tentu saja ya tentang persahabatan yang tak akan putus, cerita-cerita tentang keluarga dan juga puisi-puisi tentang persahabatan. Kalau dipikir-pikir lucu juga sih,
- Next

Profil Penulis

Lianny Hendrawati
@lianny
lianny.hendrawati@gmail.com

Wife | Mom of 3 | Blogger | Blue Lovers

Follow Me

Search

Tulisan Terbaru